NPSN: 70007255
TARAKAN - Keterbatasan sarana ruang belajar masih menjadi persoalan utama di SMK Negeri 4 Tarakan. Dengan jumlah siswa yang terus bertambah, pihak sekolah mengakui masih membutuhkan puluhan Ruang Kegiatan Belajar (RKB) untuk menunjang proses pembelajaran yang layak dan nyaman.
Kepala SMK Negeri 4 Tarakan, Aliyas Imran, membenarkan adanya keluhan orang tua siswa terkait kondisi ruang kelas yang dinilai tidak layak hingga viral di media sosial. Ia menjelaskan, sebagian ruang belajar saat ini memanfaatkan bangunan bekas gudang milik salah satu supermarket di sekitar kawasan sekolah.
“Gudang tersebut kemudian disekat menjadi 10 kelas menggunakan plywood, dengan lantai belum keramik dan hanya dilengkapi kipas angin,” terangnya, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, ruang kelas yang dikeluhkan salah satu orang tua siswa berada di bagian gedung belakang sekolah yang sejak awal memang tidak dirancang sebagai ruang belajar.
“Ruangan tersebut awalnya bukan dirancang sebagai tempat belajar, namun kami harus memanfaatkannya, karena jumlah siswa yang mencapai 743 orang, dengan jumlah kebutuhan total 24 kelas, belum termasuk laboratorium,” ungkapnya.
Saat ini, SMKN 4 Tarakan baru memiliki tiga ruang kelas yang dinilai layak dan telah dilengkapi fasilitas pendingin ruangan (AC) yang dibangun pada 2022. Sementara itu, sejumlah bangunan hasil pembangunan tahun 2025 seperti WC, laboratorium dua lantai, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan ruang tata usaha juga terpaksa difungsikan sebagai kelas untuk mengatasi kekurangan ruang. Bahkan, musala sekolah turut digunakan sebagai ruang belajar sementara.
"Kita menggunakan sistem moving class dan sudah memindahkan siswa yang mengalami masalah kesehatan seperti sesak nafas ke ruangan yang lebih baik. Untuk siswa dengan riwayat asma, kami juga berusaha memberikan penempatan yang lebih nyaman," ujarnya.
Sekolah yang berdiri pada 2020 dan mulai dibangun pada 2021 ini saat ini memiliki empat jurusan, yakni Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Pengembangan Perangkat Lunak dan GIM (PPLG), Desain Komunikasi Visual yang sebelumnya multimedia, serta Animasi. Selain kekurangan ruang kelas, sekolah juga masih membutuhkan laboratorium khusus untuk masing-masing jurusan beserta peralatan pendukung pembelajaran.
Aliyas Imran menegaskan bahwa kondisi keterbatasan sarana tersebut telah berulang kali dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi melalui pengawas pembina dan kepala bidang SMK.
"Kami tidak menutupi kondisi sebenarnya, dan sudah mengusulkan kebutuhan pembangunan di setiap pertemuan. Pembangunan membutuhkan proses, dan kami hanya sebagai penerima yang siap menyambut jika ada langkah nyata dari pemerintah," ucapnya.
Saat ini, sekitar 13 kelas masih menempati gedung bekas gudang dan ruangan sementara lainnya, dengan kapasitas rata-rata 36 siswa per kelas. Sementara siswa lainnya ditempatkan di tiga ruang kelas ber-AC dan ruang laboratorium yang tersedia.
“Jika siswa kelas XII yang sedang PKL kembali ke sekolah, kebutuhan akan ruang kelas akan semakin meningkat,” pungkasnya.
Post: Admin
